Business Transformation with the Internet of Things: Tantangan IoT bagi SDM Indonesia

Posted By smartcomputerindo | 30 July 20 | Event

 

 


Kreen kembali mengadakan Techminar seru bertajuk Business Transformation with the Internet of Things pada 23 Juli 2020 lalu. Antusiasme peserta ditunjukkan melalui jumlah pendaftar yang terus meningkat seiring dengan berjalannya pendaftaran. Acara ini berhasil mengupas tantangan dan proses penerapan Internet of Things di Indonesia, terutama dalam bidang bisnis.

 

Direktur Standarisasi Perangkat Pos dan Informatika Kominfo, Indra Utama menjelaskan komponen-komponen dalam implementasi IoT yang terangkum dalam sebuah konsep bernama ICT Building Blocks: yakni aplikasi, device, telco network dan passive infrastructure

 

Saat ini, Kominfo telah mencanangkan beberapa program untuk memajukan penerapan IoT. Sebut saja pembuatan IoT Makers Creation. Wadah ini terbentuk dari kerjasama Kominfo, Asosiasi IoT, Kemenperin, industri, operator, dan BPPT guna mengembangkan ekosistem IoT di Indonesia. Berkat keberadaan IoT Makers Creation yang didukung workshop dan eksibisi, memunculkan banyak pemenang kompetisi IoT dan diharapkan semakin mempopulerkan teknologi ini di masa depan.

 

Beberapa tantangan yang dihadapi berada pada sektor SDM dan biaya implementasi maupun monetisasi karena ROI yang belum jelas. Meski begitu, Indra dan pihak Kominfo menyarankan meluasnya pemakaian IoT karena telah terbukti memangkas biaya usaha hingga 5%.

 

Dari sisi praktisi, ada Agung Enriko dari Telkom dan Nining Suhartini dari Intel. Telkom telah mengembangkan proyek IoT di Indonesia. Sebut saja dalam penciptaan Smart City di Bali hingga Jaya Pura, Smart Connected di Bandara Soekarno Hatta, bahkan bidang kesehatan seperti digitalisasi pabrik Kimia Farma maupun penciptaan sistem kesehatan My Kardio untuk menanggulangi kurangnya jumlah dokter bagi pasien jantung.

 

Intel pun turut berkontribusi dalam penciptaan IoT dalam berbagai bidang melalui gabungan strategi konvergensi pekerjaan, AI, dan pembuatan komputer high-performance. Mereka berkomitmen membantu bidang-bidang seperti kesehatan, ritel, energi, edukasi, pemerintahan, perbankan, hingga industri dan media untuk menjelajah dunia IoT demi produktivitas dan pemangkasan biaya.

 

Rupanya, IoT pun pelan-pelan merambah ke bisnis yang tak terpikirkan sebelumnya. Sebut saja usaha warung dan pertanian. Andika Sandi Prima sebagai perwakilan IoTanam menjelaskan pentingnya konsep smart urban farming di masa sekarang. 

 

Menurutnya, ada prediksi bahwa pada tahun 2030, Indonesia akan mengalami peningkatan kebutuhan pangan sebanyak 75%. Di sisi lainnya, lahan tani mulai berkurang karena banyak gedung menggantikan lahan pertanian. Hal ini dikhawatirkan menyebabkan krisis pangan. Apalagi, banyak anak muda, bahkan yang berasal dari jurusan pertanian, tak berminat menjadi petani atau bergerak di bidang itu. 

 

IoT dapat membantu para petani mengoptimalkan kualitas dan kuantitas panen mereka. Sehingga, kegiatan bertani tak lagi membingungkan dan hasilnya lebih terukur. Misalnya saja monitoring kelembapan, nutrisi, cahaya, hingga kontroling proses dan deteksi untuk pembuatan database penyakit.

 

Elvandry selaku IoT Engineer di Warung Pintar membuat sistem smart ritel yang meningkatkan daya saing usaha kecil. Warung Pintar membantu proses pengumpulan dan analisis data di lapangan untuk mempelajari perilaku konsumen. 

 

Warung Pintar juga membekali pengusaha warung dengan beragam fasilitas. Fasilitas tersebut antara lain LCD TV, sistem digital, kulkas mini, charging station, CCTV, kompor, wi-fi, pre-fab building alias kios bongkar pasang yg praktis dan modern. Semuanya bertujuan untuk mempermudah pengusaha warung dalam berjualan dan melakukan promosi.

 

Berbicara soal kesiapan masyarakat Indonesia dalam mengadopsi IoT, kelima panelis setuju bahwa IoT bukan kemustahilan, namun perlu dijalankan secara perlahan. Harus diakui bahwa sebagian besar masyarakat belum aware. Enriko pun melihat bahwa baru beberapa perusahaan yang beranjak ke industri 4.0, kebanyakan masih mandeg di industri 3.0. Meski begitu, dengan edukasi dari berbagai macam pihak, kelimanya optimis IoT dapat semakin memasyarakat.

 

Teknologi ini sangat mungkin untuk diterapkan dalam berbagai skala bisnis. Hal paling penting dalam pemakaian IoT adalah memahami apa itu IoT, bagaimana IoT bekerja, dan tujuan apa yang ingin dicapai dalam memanfaatkan IoT. 

 

Selain itu, ada mindset yang harus diubah saat ingin beralih ke IoT yakni bahwa penggunaan teknologi ini bukannya menghilangkan pekerjaan, justru membuka karier yang tak sekedar administratif atau kerah biru. 

 

Nantinya, para pegawai di lini ini tak di-PHK melainkan dialihkan ke unit bisnis lain, sementara pekerjaan yang bisa diotomasikan akan dikerjakan dengan IoT. Penerapan IoT juga harus memerhatikan proses, people dan technology, termasuk dibarengi literasi dan regulasi agar dapat berjalan dengan lancar.