Menelaah Efek Resesi Ekonomi dalam The Battle of Economic Recessions in Indonesia

Posted By smartcomputerindo | 11 December 20 | Event

 

 

TECHMinar Kreen Indonesia bertajuk The Battle of Economic Recessions in Indonesia yang dihadiri ekonom, peneliti, dan pengusaha berhasil mengulik gambaran resesi ekonomi di Indonesia dan bagaimana kita mampu melewatinya.

 

Menurut Faisal Basri, ekonom senior, periode resesi adalah momentum untuk berbenah. Arti resesi ekonomi harus dimaknai sebagai periode detox sehingga ekonomi pasca-resesi mampu tumbuh lebih segar.

 

Beliau juga menyoroti bagaimana resesi kali ini berbeda dengan resesi Indonesia di masa sebelumnya. Pasalnya, tak seperti krisis ekonomi akibat bencana alam atau peperangan yang ditandai kerusakan fasilitas produksi, resesi ekonomi akibat COVID-19 ini tidak terganggu dalam hal fasilitas sama sekali. Untuk itulah, rebound dapat dilakukan lebih cepat.

 

Pendapat Faisal Basri yang juga diamini oleh keempat speakers lainnya adalah bahwa kunci dalam pemulihan ekonomi justru terletak pada aspek kesehatan. Bila sektor penanganan COVID-19 tak kunjung diperbaiki, akibat resesi ekonomi akan semakin menjadi. Sebaliknya, jika COVID-19 berhasil ditangani, ekonomi akan naik secara otomatis.

 

Apalagi, menurut Mohammad Faisal (Direktur CORE), aktivitas konsumsi yang kini dijadikan tumpuan ekonomi belum mampu berjalan secara maksimal karena COVID-19. Sebetulnya, tingkat konsumsi menengah ke atas masih bisa digenjot, namun terkendala kebijakan akibat COVID-19 seperti physical distancing.

 

Omnibus Law pun dianggap kurang efektif jika tujuannya menaikkan investasi. Intinya tak lagi pada kuantitas, namun pada kualitas penciptaan investasi. Tauhid Ahmad (Direktur INDEF) pun menyebutkan bahwa beberapa permasalahan seperti produktivitas, logistik, korupsi, dan perpajakan tidak bisa diselesaikan dengan Omnibus Law. Bahkan, aturan ini berpotensi menimbulkan isu baru dari aspek ketenagakerjaan.

 

Faisal Basri, Tauhid Ahmad (Direktur INDEF), dan Mohammad Faisal (Direktur CORE Indonesia) meyakini bahwa untuk meningkatkan investasi dalam rangka pemulihan ekonomi harus dibarengi dengan pemanfaatan teknologi. Teknologi tepat guna akan memungkinkan pengelolaan capital dan labor yang lebih produktif.

 

Hana Arimbi, Analis Ekonomi Sekretariat Kabinet RI menyebutkan bahwa ada 4 klaster program PEN yang telah diusung pemerintah untuk mengurangi efek resesi ekonomi. Keempatnya adalah Perlindungan Sosial, UMKM, Pembiayaan Korporasi, Sektoral K/L & Pemda. 

 

Ia juga menyebutkan pengamatannya soal dampak dari resesi Indonesia. Pertama, penurunan growth yang disebabkan oleh penurunan public investment (karena public debt meningkat). Kedua, human capital (kehilangan pekerjaan, food insecurity, penutupan sekolah). Ketiga, private investment (seiring dengan meningkatnya global uncertainty). Serta keempat, yakni aspek productivity. 

 

Dari mata pengusaha, Rio Rizaldi (Founder & CEO Galeri Saham) serta Chandra Firmanto (Managing Partner Indogen Capital) punya pendapat yang berbeda. Rio menekankan kesiapan individual dalam menghadapi efek resesi ekonomi.

 

Menurutnya, saat ini kita harus menyiapkan empat aspek yakni prioritas, psikologi, skill set, dan society. Kita perlu menyiapkan budgeting yang rapi, memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar, mengubah mindset negatif, mengupgrade kapabilitas agar relevan dengan kebutuhan pasar, dan berkolaborasi dalam mengatasi krisis.

 

Sementara, Chandra Firmanto lebih mengamati akibat resesi ekonomi dalam bidang permodalan dan startup. Menurutnya, investasi startup 2020 masih lebih tinggi dari 2019 dan masih banyak pula startup yang sehat.Tantangannya terletak pada investor yang akan lebih memilih pandemic proof sector seperti tech edu, healthtech, food delivery, dan e-sports. Selain itu, startup baru juga cukup challenging dalam mendapatkan investor di tengah ketidakpastian.

 

Chandra menekankan pentingnya bagi startup untuk melirik efek resesi ekonomi terhadap keuangan mereka. Ketika momentum dirasa belum tepat, jangan melakukan fundraising karena hanya akan berakhir sia-sia. Ia menekankan pentingnya pendapatan casual yang sehat minimal sepanjang 18 bulan. Startup juga perlu memiliki strategic value, memahami landscape kompetitor, termasuk para leader di niche startup tertentu.