Digitalize Indonesia, Telisik Perjalanan Tranformasi Digital Indonesia

Posted By smartcomputerindo | 14 December 20 | Event

 

 

Transformasi digital dapat dilakukan di berbagai bidang dalam beragam wujud. Itulah sedikit dari kesimpulan Techminar Kreen Indonesia bertajuk Digitalize Indonesia yang membahas tentang perjalanan transformasi digital Indonesia. 

 

Pemerintah sangat mendukung rencana transformasi digital termasuk proses digitalisasi di seluruh sektor. Sri Saraswati selaku Kepala Bagian Program dan Anggaran mendetailkan beberapa program digitalisasi yang telah dibuat pemerintah. 

 

Salah satunya adalah SPBE (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik). Sayang, masih ada permasalahan yang menghadang implementasi sistem tersebut, misalnya pemborosan anggaran akibat sistem yang belum terintegrasi. Akhirnya, keamanan informasi, biaya, dan validitas data menjadi risiko yang dipertaruhkan.

 

Saat ini, BPPT berperan dalam meningkatkan kualitas SPBE yakni melakukan audit tahunan, knowledge management (membuat pedoman dan melaksanakan pendampingan), hingga menelaah kajian AI dan cloud service yang dapat dimanfaatkan bagi pengambilan keputusan.

 

Transformasi SPBE meliputi aspek pusat data, jaringan intra pemerintah, dan aplikasi SPBE itu sendiri. BPPT pun ditugaskan BRIN untuk menyusun Kerangka Kerja Pengembangan KA (Kecerdasan Artifisial) Nasional yg terdiri dari 5 bidang prioritas (layanan kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan riset, ketahanan pangan, mobilitas dan kota cerdas) dan 4 area fokus: riset dan inovasi industri, infrastruktur dan data, pengembangan talenta, etika & kebijakan).

 

Selain pemerintah, transformasi digital pun didukung oleh pihak-pihak yang menjadi motor penggerak inovasi. Sebut saja startup, penyedia program inkubasi startup, hingga mentor bisnis dan penyedia fasilitas digital. 

 

Wahyu Eko Widodo selaku Co-Founder Cubic menyebut bahwa Indonesia memiliki peluang untuk mencapai keuntungan tinggi dalam bidang ekonomi kreatif digital. Hal yang harus dilakukan adalah menggencarkan transformasi digital secara perlahan. Cubic sendiri bergerak pada program inkubasi startup yang meliputi bantuan dalam pembentukan produk, penentuan pasar, penyediaan fasilitas seperti co-working, serta peluang kerjasama dan pengelolaan pendanaan dari investor.

 

Startup terobosan lainnya di bidang perikanan, Aruna, menunjukkan bahwa transformasi digital nyatanya mampu dilakukan di sektor yang selama ini tak pernah terbayang. Devi Ariyani selaku Corporate Communication dari startup tersebut menegaskan bahwa Aruna tak hanya fokus melakukan kerjasama penjualan dengan petani, tapi juga meningkatkan literasi digital mereka dan membantu masyarakat sekitar pesisir untuk berkontribusi.

 

Erik Nainggolan, Founder Soulfy.com selaku pihak yang menyediakan fasilitas digital bagi UMKM menyatakan bahwa momen ini seharusnya bisa diarahkan untuk memperluas jangkauan konten digital dalam berbagai platform. Kesalahan yang perlu dihindari adalah menciptakan strategi konten yang serupa untuk setiap media sosial, padahal mereka memiliki karakter yang berbeda. 

 

Fajar Eri Dianto, Ketua Umum RelawanTIK juga menekankan bahwa inovasi sebaiknya perlu dimulai dari penciptaan aplikasi atau teknologi yang tepat guna. Pastikan bahwa aplikasi itu menyelesaikan permasalahan orang banyak, bukan diciptakan untuk memenuhi ego semata.

 

Didik Mulato dan Pandu Ranggabirawa yang kerap mengampu pelatihan di bidang digital menekankan pentingnya fokus pada isu dan berhenti menyalahkan keadaan. Salah satunya mencari mentor, belajar dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari pihak yang berpengalaman.

 

Seluruh pembicara meyakini bahwa kunci transformasi digital adalah kolaborasi dan sensitivitas terhadap lingkungan. Salah satunya dicapai melalui perubahan pola pikir, pola komunikasi, dan pola bekerja.