Mendalami Istilah Technopreneur & Technopreneurship serta Kelebihannya

Posted By smartcomputerindo | 27 November 20 | Productivity

Selain sociopreneur, istilah technopreneur juga sedang hangat diperbincangkan. Sebetulnya apa pemahaman dari istilah itu dan kelebihan technopreneurship bagi seorang pemimpin usaha? Simak penjelasannya lewat artikel di bawah ini!

Pengertian Technopreneur dan Technopreneurship

Daniel Korpai/Unsplash

 

Menurut buku Jadi Technopreneur Berprestasi di Usia Muda, bila menilik dari asal katanya, technopreneur adalah gabungan dari kata teknologi dan entrepreneur. Secara garis besar, technopreneur mengandung makna tentang bagaimana upaya pemanfaatan teknologi yang sedang berkembang pesat untuk dijadikan sebagai peluang usaha. Bisa dibilang bahwa technopreneur adalah entrepreneur modern yang berbasis pada teknologi dalam menjalankan usahanya. 

 

Definisi lain teknopreneur menurut buku The Emerging Technology of Big Data: Its Impact as a Tool for ICT Development, adalah seseorang yang membentuk suatu organisasi baru, menciptakan suatu produk material baru, lantas mempresentasikan produk dan layanan tersebut untuk menghancurkan model ekonomi lawas. 

 

Technopreneur menunjukkan diri mereka melalui kapabilitas untuk mengumpulkan, mengelola kemampuan serta menghantarkan sumberdaya dalam mencapai tujuan bisnis dan sosial. 

 

Teknopreneur pun dapat dipandang sebagai seseorang yang kreatif dan berani mengambil resiko dari bisnis yang sudah umum dan terus mengejar komersialisasi produk, teknologi, produksi, dan rencana bisnis anyar.

 

Sedangkan, menurut buku Technopreneurship Millennial: Technopreneurship Millennial, technopreneurship mengacu pada inkubator bisnis berbasis teknologi yang memiliki wawasan untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan.

 

Fungsi utama technopreneurship adalah menjamin bahwa teknologi berfungsi sesuai kebutuhan pelanggan, dan menjamin bahwa teknologi tersebut mampu menghasilkan keuntungan. Hal ini tertuang dalam buku Entrepreneurship: Menjadi Pebisnis Ulung.

 

Apa saja elemen pembentuk jiwa technopreneurship? Menurut buku Technopreneurship Membentuk Karakter Entrepreneur Muda yang Sukses, technopreneurship dilandasi oleh kreativitas dan pemanfaatan teknologi dengan tepat. Kreativitas akan mengubah mental lama wirausahawan yang cenderung konvensional. Kreativitas mengajak pelaku usaha bermain dengan imajinasi dan berbagai kemungkinan, memimpin perubahan dengan ide baru, dan memberikan arti pada hubungan antara ide, orang, dan lingkungan. 

 

Technopreneurship juga perlu dibangun dengan pendekatan menyeluruh dan integral. Artinya, technopreneurship mengkolaborasikan “budaya” (budaya inovasi, kewirausahaan, dan kreativitas), “konsepsi” (konsep inkubator bisnis, penelitian dan pengembangan, knowledge management and learning organization) yang didukung kapabilitas wirausahanya sendiri, serta konektivitas dan koboratif. 

 

Menurut Liputan6, elemen terpenting dalam technopreneurship justru terletak dalam diri pemimpin usaha sendiri, yakni knowledge (pengetahuan), skill (kemampuan), dan attitude (sikap) dalam melihat sebuah peluang pemanfaatan teknologi. Attitude menjadi aspek yang paling sulit untuk dicapai. Diperlukan sikap optimis, tekun, dan disiplin untuk menjiwai peran sebagai technopreneur.

 

Berdasarkan definisi-definisi di atas, pada intinya, menjadi technopreneur dan mengamalkan technopreneurship tak sekedar memanfaatkan teknologi atau bersinggungan dengan usaha-usaha teknologi. 

 

Technopreneur pun bisa dilakukan oleh siapa saja, tak harus orang berlatar belakang engineering atau background teknologi lainnya. Menjadi technopreneur justru bergantung pada mindset dan kemampuan wirausaha untuk melihat peluang dalam pengamalan teknologi pada usaha mereka.

Peluang Menjadi Technopreneur saat ini

Freepik

 

Saat negara menggunakan pendekatan peningkatan kemampuan teknologi sebagai pendorong peningkatan produksi nasional dan dalam banyak negara sebagai strategi competitive advantage, maka technopreneurship adalah program yang termasuk di dalamnya sebagai bagian integral dari peningkatan kultur kewirausahaan. 

 

Menurut buku Jadi Technopreneur Berprestasi di Usia Muda, proses globalisasi menuntut perubahan perekonomian Indonesia dari resource-based ke knowledge-based

 

Resource based artinya mengandalkan kekayaan dan keragaman sumber daya alam yang umumnya menghasilkan nilai tambah kecil. Sedangkan, knowledge-based economy dimunculkan oleh konsep seperti technopreneur yakni bisnis baru yang menekankan suatu inovasi. Technopreneur memang sangat dibutuhkan mengingat pentingnya teknologi untuk mendapatkan kenyamanan, kemudahan, produktivitas, efisiensi, keringanan, dan kecepatan dalam berbagai proses bisnis. 

 

Pemerintah bahkan punya program technopreneurship bertajuk  “1000 Technopreneur” sejak tahun 2015 untuk menciptakan lebih banyak technopreneur di Indonesia. Melansir laman Kominfo, 95% bisnis di Indonesia adalah startup di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Oleh karena itu, peluang startup atau teknopreneur akan terus dioptimalkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. 

Jenis usaha Technopreneurship

Creativeart/Freepik

 

Menurut buku Entrepreneurship: Menjadi Pebisnis Ulung, secara umum ada dua jenis bisnis yang membentuk technology entrepreneur. Keduanya adalah bisnis lifestyle dan bisnis pertumbuhan tinggi. 

 

Bisnis lifestyle umumnya tidak tumbuh dengan cepat sehingga kurang menarik bagi investor profesional. Bisnis pertumbuhan tinggi memiliki potensi menghasilkan kekayaan yang besar dengan cepat dan berisiko tinggi, tapi memberikan imbalan yang besar sehingga menarik bagi pemodal ventura. Dell adalah contoh perusahaan dengan bisnis pertumbuhan tinggi. 

 

Sedangkan, buku Technopreneurship (2008) menyebutkan, usaha yang meliputi seseorang technopreneur antara lain pengelola yang bergerak dibidang pembuatan HP, Smartphone, gadget, laptop, dan alat teknologi canggih lainnya.

 

Di level global, Mark Zuckerberg dan koleganya (pendiri Facebook), serta Steve Chen dan timnya (perancang YouTube) adalah contoh technopreneur. Begitu juga Bill Gates (pengembang Microsoft) dan Jeff Bezos (pengembang Amazone).

Untuk konteks Indonesia, marketplace seperti Bukalapak dan e-ticketing Traveloka juga sering menjadi contoh produk technopreneur, selain Gojek, Tokopedia, dan sejenisnya.

Namun, seperti disebutkan oleh buku Technopreneurship: Strategi dan Inovasi, technopreneur tak hanya dilakukan oleh jenis-jenis bisnis di atas saja. Pemilik bidang usaha lain seperti usaha mebel, restoran, supermarket atau kerajinan tangan, batik, dan perak dapat menjadi seorang teknopreneur. 

 

Pasalnya, seperti yang dijelaskan di atas, technopreneurship lebih mengarah pada pemanfaatan teknologi untuk mengembangkan wirausaha. Misalnya saja memasarkan produk mereka dalam perdagangan online, pemanfaatan piranti lunak khusus untuk memotong biaya produksi atau memanfaatkan website sebagai sarana iklan untuk wirausaha. 

Sudah siap menyambut revolusi industri 4.0? Ambil kontribusi Anda sebagai technopreneur mulai hari ini!

Sumber

https://books.google.co.id/books?id=2znyDwAAQBAJ&pg=PA36&dq=technopreneur&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwi0-pKztZzsAhXyQ3wKHVdtBCkQ6AEwAXoECAEQAg#v=onepage&q=technopreneur&f=false

https://books.google.co.id/books?id=fDL3DwAAQBAJ&pg=PA108&dq=technopreneur+is&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwjKqqqQuJzsAhUhILcAHbbKCzYQ6AEwAnoECAUQAg#v=onepage&q=technopreneur%20is&f=false

https://www.liputan6.com/citizen6/read/3180565/ini-poin-yang-diperlukan-untuk-menjadi-seorang-technopreneur?utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.0&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F

https://books.google.co.id/books?id=-LyXDwAAQBAJ&pg=PA4&dq=technopreneur&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwi0-pKztZzsAhXyQ3wKHVdtBCkQ6AEwBHoECAUQAg#v=onepage&q=technopreneur&f=false

https://books.google.co.id/books?id=9tYvDwAAQBAJ&pg=PA63&dq=technopreneurship&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwi3jtb1vZzsAhVUfisKHQaqBg4Q6AEwBHoECAQQAg#v=onepage&q=technopreneurship&f=false

https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/6373/Menuju+Seribu+Technopreneur+di+Indonesia/0/berita_satker