Architecture Transformation di Era Digital, Kenali Desain Bangunan di Era Digital

Posted By smartcomputerindo | 11 December 20 | Event

 

 

Teknologi mengubah segala tatanan kehidupan kita. Begitu juga desain rancang bangunan dan interior di era digital. Memasuki era ini, karya arsitektur menghadapi tantangan sekaligus peluang dari segi perencanaan, pembuatan desain, hingga proses pembangunan produk arsitektural.

 

Industri 4.0 lekat dengan segala yang berhubungan dengan internet dan konektivitasnya: sistem cyber, Internet of Things, cloud computing, maupun komputasi kognitif. Kehadiran teknologi berbasis data dan informasi di bidang konstruksi memberikan pengaruh pada metode pembangunan dan perspektif para pelakunya. 

 

Layaknya profesi lain yang mendapat kemudahan dari teknologi digital, dalam mengerjakan desain bangunan, sketsa tak lagi dibuat di atas kertas, namun dibuat memakai laptop, tablet, ponsel via beragam software arsitektur. 

 

Meeting dengan klien kini dapat dilakukan secara online, dan segala progress pekerjaan dapat disimpan di cloud. Survei lokasi dapat dieksekusi dengan Google Maps, modelling dapat memanfaatkan 3D modeling hingga 3D printing.

 

Teknologi membuat pekerjaan arsitektur dan profesi lain di bidang konstruksi menjadi lebih efisien dan cepat. Tak sampai di situ, pola perancangan bangunan pun berubah seiring dengan berkembangnya sudut pandang profesi arsitek dan konstruksi.

 

Arsitektur 4.0 adalah suatu rancangan yang telah berbasis data dan informasi sehingga memberikan nilai kepraktisan dan efisiensi dalam proses pengerjaannya. Menurut Guru Besar Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Yandi Andri Yatmo, era revolusi industri 4.0 membuat desain bangunan lebih responsif terhadap penggunanya dan perubahan alam yang terjadi. 

 

Inilah yang mendasari munculnya konsep smart building, yakni rancang bangun yang memperhatikan keterkaitan antara fungsi bangunan dan aktivitas manusia dalam bangunan tersebut. Selain merancang bangunan sesuai kebutuhan dan fungsi, arsitektur pun diselaraskan dengan perubahan kondisi alam yang terjadi di lokasi properti tersebut. 

 

Secara otomatis, pilihan material dalam seni arsitektur pun akan turut disesuaikan pula. Contohnya saja desain bangunan rawan gempa atau penyesuaian desain bangunan terhadap posisi matahari untuk memaksimalkan pemanfaatan cahaya dalam bangunan.

 

Pengamat perkotaan Yayat Supriatna mengatakan bahwa pola arsitektur 4.0 sebetulnya telah dilakukan sejak tahun 2018 melalui kemunculan smart home dan smart apartment. Bahkan, data tahun 2019 menunjukkan bahwa 70% bangunan rata-rata telah memakai sistem arsitektur 4.0. 

 

Era arsitektur 4.0 pun mampu mempercepat pembangunan dan mengurangi penggunaan sumber daya alam mencapai 70%. Apalagi, pola arsitektur 4.0 pun sudah bisa diterapkan untuk tempat tinggal.

 

Ingin tahu lebih banyak soal perkembangan dunia arsitektur di era digital? Apa saja desain bangunan yang cocok di era digital sekaligus berbagai inovasi teknologi yang telah diterapkan?

 

Hadiri TECHMinar Kreen Indonesia berjudul “Architecture Transformation di Era Digital.” Acara yang diadakan 15 Desember 2020 pukul 13.30 ini akan dihadiri oleh Julia Sieh (Architecture and Engineering), Sanders Budiman (Junior Architect, Cafe-entrepreneurship, Interior Freelancer), serta Yanuar Pratama Firdaus (Principle of Aaksen Responsible Architecture). Daftar sekarang untuk dapat e-certificate dan ilmu gratis! Anda juga berkesempatan memperoleh doorprize menarik di akhir acara.

Sumber

https://realestat.id/berita-properti/arsitektur-dan-desain-di-era-4-0-peluang-atau-tantangan/

https://economy.okezone.com/read/2019/04/07/470/2040133/tak-lagi-minimalis-begini-desain-bangunan-di-era-arsitektur-4-0

https://properti.kompas.com/read/2019/03/30/183000021/industri-4.0-mendorong-sektor-konstruksi-lebih-efisien